
SEMARANG, semarangnews.id – Memasuki hari kedua gelaran Indonesia Marketing Festival, MarkPlus Conference 2026, Selasa (4/8/2026), suasana di Hotel Santika Premiere Semarang semakin semarak. Agenda yang diikuti para pimpinan perusahaan, pelaku usaha, hingga perwakilan berbagai lembaga ini mengangkat tema “Winning the Competition in the Age of AI”, sebuah pembahasan yang sangat relevan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Founder dan Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, kembali menjadi pembicara utama. Tahun ini menjadi kali ke-14 dirinya hadir dalam forum MarkPlus Conference yang secara konsisten digelar setiap tahun sebagai wadah berbagi strategi bisnis dan kepemimpinan di era yang terus berubah.

Di hadapan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan korporasi, Hermawan menegaskan bahwa persaingan bisnis pada era AI tidak lagi hanya mengandalkan produktivitas. Menurutnya, perusahaan dan para entrepreneur harus mampu menghadirkan kreativitas serta inovasi agar tetap relevan dan memenangkan kompetisi.
“Entrepreneur tidak cukup hanya produktif. Mereka harus kreatif dan inovatif karena perubahan sekarang berlangsung sangat cepat,” pesannya.
Ia juga menyoroti pola pikir lama yang menganggap perusahaan besar identik dengan jumlah sumber daya manusia yang banyak. Menurut Hermawan, paradigma tersebut sudah tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan.
“Di era AI seperti sekarang, perusahaan tidak perlu memiliki SDM dalam jumlah besar jika tidak efektif. Yang dibutuhkan adalah organisasi yang lincah, efisien, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai bisnis,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparannya, Hermawan mengajak para pemimpin perusahaan untuk melihat AI sebagai mitra strategis, bukan ancaman. Teknologi dinilai mampu membantu proses bisnis menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien, sehingga sumber daya manusia dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, dan kemampuan mengambil keputusan.
Salah satu momen menarik yang dibagikan Hermawan adalah pengalamannya bertemu dengan entrepreneur asal Semarang, Anne Avantie. Ia bercerita sempat berjumpa dengan Anne di kawasan Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta, tepatnya di sebuah stan makanan.
“Saya ketemu Bu Anne di Kokas, di stand makanan. Saya sempat bertanya, ‘Ibu dulu kan dikenal di dunia fashion, kok sekarang tiba-tiba masuk ke kuliner?'” kenangnya yang langsung disambut antusias peserta.
Menurut Hermawan, langkah Anne Avantie tersebut merupakan contoh nyata seorang entrepreneur yang berani keluar dari zona nyaman. Meski telah sukses membangun bisnis fashion, Anne tetap berani melakukan diversifikasi usaha dan menangkap peluang baru di sektor kuliner.
Keberanian untuk terus beradaptasi dan menciptakan inovasi, lanjutnya, merupakan karakter yang wajib dimiliki setiap pelaku usaha di tengah perubahan zaman.
Hari kedua MarkPlus Conference 2026 memang secara khusus diikuti peserta dari kalangan korporasi, mulai dari perusahaan swasta, BUMN, hingga berbagai lembaga. Forum tahunan ini menjadi ajang bertukar gagasan sekaligus memperkuat jejaring antarpelaku bisnis dalam menghadapi tantangan ekonomi digital.
Melalui tema “Winning the Competition in the Age of AI”, MarkPlus Conference kembali menegaskan bahwa keberhasilan bisnis di masa depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya organisasi, tetapi oleh kemampuan beradaptasi, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi secara efektif. Bagi para entrepreneur maupun pemimpin perusahaan, AI bukan sekadar tren, melainkan katalis untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.





