
SEMARANG, semarangnews.id – Memasuki hari kedua gelaran Indonesia Marketing Festival (IMF) 2026 yang digelar di Hotel Santika Premiere Semarang, Selasa (4/8/2026), peserta mendapatkan wawasan mendalam mengenai pentingnya membangun nilai bisnis melalui pendekatan “Crafting Value Through Story”.
Sesi ini menghadirkan tiga narasumber dari berbagai sektor industri yang membagikan pengalaman nyata dalam menghadapi tantangan bisnis sekaligus membangun kedekatan dengan pelanggan.
Ketiga pembicara tersebut adalah General Manager Corporate Business CITO Laboratorium dan Klinik, Vivi Chandra, Presiden Direktur Siba Surya, Stefanus Suryaatmadja, serta Founder Avara Custom Indonesia, Alvan Yulius Harianto.
Dalam paparannya, Stefanus Suryaatmadja menjelaskan bahwa industri ekspedisi di Indonesia memiliki karakteristik yang sangat terfragmentasi. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk memiliki strategi yang tepat dalam menentukan pasar yang dibidik.
“Di Indonesia, infrastruktur masih sangat terbatas. Karena itu pendekatan kami fokus pada segmen industri yang besar dengan volume pengiriman yang juga besar. Segmentasi wilayah pun kami bedakan. Untuk pabrik-pabrik yang memiliki eksposur pengiriman ke kota-kota besar, strategi layanan kami juga disesuaikan,” ujarnya.
Menurut Stefanus, memahami karakteristik pelanggan dan wilayah operasional menjadi kunci agar perusahaan mampu memberikan layanan yang lebih efektif sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pelanggan.
Sementara itu, Vivi Chandra membagikan pengalaman CITO Laboratorium dan Klinik ketika menghadapi pandemi Covid-19. Ia mengatakan CITO menjadi salah satu institusi kesehatan yang bergerak cepat dengan menghadirkan layanan swab Covid-19 saat pandemi mulai melanda.
“Pada saat Covid, CITO termasuk yang pertama kali melakukan swab Covid. Tantangan itu selalu ada, baik dari faktor eksternal maupun internal. Karena itu perusahaan harus selalu siap menghadapi berbagai perubahan,” ungkapnya.
Vivi juga menekankan bahwa pengalaman pelanggan atau customer experience harus dibangun berdasarkan sudut pandang pelanggan, bukan semata-mata dari perspektif perusahaan.
“Storytelling itu harus berasal dari pelanggan, bukan dari perusahaan. Artinya kita benar-benar harus memahami siapa customer kita. Cara kami menangani pelanggan B2C tentu berbeda dengan B2B karena kebutuhan dan ekspektasinya juga berbeda,” jelasnya.
Pandangan senada disampaikan Founder Avara Custom Indonesia, Alvan Yulius Harianto. Ia mengungkapkan bahwa pandemi justru menjadi momentum penting bagi perusahaannya untuk melakukan berbagai eksperimen dan riset produk.
“Saat Covid kami banyak melakukan trial. Justru setelah pandemi bisnis kami berkembang pesat karena riset itu dilakukan selama masa Covid,” katanya.
Menurut Alvan, setiap pelaku usaha harus memahami keunggulan kompetitif yang dimiliki agar mampu menghadirkan produk yang berbeda di pasar.
“Di bidang apa pun kita harus tahu keunggulan usaha kita. Konsep yang kami bangun sangat personal karena setiap produk disesuaikan dengan keinginan pelanggan,” tuturnya.
Melalui sesi Crafting Value Through Story, para peserta diajak memahami bahwa kekuatan sebuah merek tidak hanya dibangun melalui produk dan layanan, tetapi juga melalui cerita yang lahir dari pengalaman pelanggan.
Storytelling yang autentik dinilai mampu menciptakan hubungan emosional, memperkuat kepercayaan, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tengah perubahan pasar yang semakin dinamis.





