LPK Quantum Bekali Keterampilan Tuna Daksa Menjadi Teknisi HP Profesional, Semarang, 22/6/2026. (Selly)
SEMARANG, semarangnews.id – Kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memiliki keterampilan sekaligus membangun kemandirian ekonomi kembali dibuka melalui program pelatihan teknisi handphone gratis yang diselenggarakan LPK Quantum Telecommunication Semarang, Senin (22/6/2026).
Memasuki batch kedua, pelatihan tersebut diikuti 10 peserta penyandang disabilitas tuna daksa. Kegiatan berlangsung di LPK Quantum Telecommunication, Jalan Bina Remaja Nomor 4, Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Program ini merupakan kelanjutan dari angkatan pertama yang dinilai berhasil melahirkan teknisi handphone mandiri.
Kepala LPK Quantum Telecommunication, Tomi Sudiarno, mengatakan pelatihan dirancang tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan teknis, tetapi juga membuka peluang usaha yang dapat langsung dijalankan setelah program selesai.
“Batch pertama alhamdulillah berjalan sukses. Peserta sudah menyelesaikan pelatihan dan magang, bahkan kini sebagian telah membuka usaha servis handphone di rumah masing-masing. Peralatannya juga kami bantu sehingga mereka bisa langsung memulai usaha,” ujar Tomi.
Menurutnya, peserta tidak hanya memperoleh materi pelatihan, tetapi juga pendampingan serta bantuan modal usaha berupa seperangkat peralatan servis handphone. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan peluang kerja sekaligus membantu para penyandang disabilitas memperoleh penghasilan secara mandiri.
Seluruh biaya penyelenggaraan program didukung berbagai sponsor dan donatur. Dukungan datang dari BT-ACC sebagai donatur utama, Braderparts, OG Supershinestar, Meetoo Sunshine, SPH, Onglai, Future Store, Libre Style, Life Future, D3 Cakep, PPDI, HIMIKS, serta sejumlah mitra lainnya.
“Harapan kami sederhana, teman-teman penyandang disabilitas bisa bekerja, memiliki penghasilan sendiri, dan lebih mandiri secara ekonomi,” katanya.
Pelatihan berlangsung selama tujuh hari dengan kurikulum yang dibagi dalam dua level. Pada level pertama peserta mempelajari keterampilan dasar atau interface repair, seperti penggantian LCD, baterai, hingga casing. Sementara level kedua difokuskan pada kemampuan mendiagnosis kerusakan perangkat, mulai dari pemeriksaan konektor pengisian daya hingga komponen elektronik yang lebih kompleks.
Bagi peserta yang menunjukkan minat dan kemampuan lebih, Quantum juga membuka kesempatan mengikuti pelatihan lanjutan secara gratis. Pada tahap berikutnya mereka akan mempelajari pembacaan skema rangkaian, software flashing, hingga penanganan kerusakan berat pada perangkat.
“Yang penting mereka punya kemauan belajar. Kalau ingin naik ke level yang lebih tinggi, kami tetap fasilitasi secara gratis,” tegas Tomi.
Usai menyelesaikan pelatihan, seluruh peserta akan mengikuti program magang selama satu bulan di sejumlah konter servis handphone milik Quantum maupun mitra kerja sama. Melalui program tersebut, peserta diharapkan memperoleh pengalaman kerja langsung sebelum membuka usaha secara mandiri.
Program pemberdayaan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Semarang. Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Moh Agus Junaidi, yang hadir saat pembukaan kegiatan menyampaikan apresiasi atas inisiatif LPK Quantum dalam membuka akses pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas.
Tomi mengungkapkan, kebutuhan anggaran untuk satu batch program mencapai sekitar *Rp120 juta* dalam satu tahun pelaksanaan. Anggaran tersebut digunakan untuk pelatihan, pendampingan, transportasi peserta, hingga penyediaan peralatan usaha. Pada batch pertama, sekitar 70 persen kebutuhan anggaran berhasil dipenuhi sponsor. Sementara pada batch kedua, dukungan sponsor meningkat hingga mencapai 95 persen.
Selain program khusus penyandang disabilitas, LPK Quantum juga rutin menggelar pelatihan teknisi handphone setiap bulan dengan kapasitas 20 peserta. Dari jumlah tersebut, tiga kursi selalu dialokasikan sebagai beasiswa gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Salah seorang peserta, Abdul Wahid (45), penyandang disabilitas asal Pedurungan, mengaku bersyukur memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan tersebut setelah mendapatkan informasi dari komunitas penyandang disabilitas.
“Saya berharap bisa menjadi wirausaha di bidang servis handphone dan meningkatkan keterampilan yang saya miliki,” ujarnya.
Sebelumnya Abdul Wahid bekerja di bidang pengeditan skripsi. Kini ia ingin memperluas keahlian di bidang elektronika yang dinilai memiliki prospek usaha cukup menjanjikan.
Melalui program ini, LPK Quantum Telecommunication berharap semakin banyak penyandang disabilitas memiliki keterampilan kerja, mampu membuka usaha secara mandiri, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk berkarya, berprestasi, dan berdaya secara ekonomi

