Tim Jagad Krida bersama Tim Jejak Niskala, usai peringatan Dies Natalis USM ke-39, Semarang 21/6/2026. (Dok).
SEMARANG, semarangnews.id — Jagad Krida tampil dalam rangkaian acara Dies Natalis Universitas Semarang (USM) ke-39 yang berlangsung pada Minggu, (21/6/2026) di kampus USM, membawa kampanye pelestarian permainan tradisional.
Dalam penampilannya, Jagad Krida berkolaborasi dengan Jejak Niskala, tim yang sebelumnya dikenal mengangkat tema kearifan lokal dan cerita mistis khas Semarang.
Konsep yang diusung Jagad Krida berfokus pada pengenalan kembali berbagai permainan tradisional Indonesia yang kini mulai jarang dimainkan oleh generasi muda, seperti egrang, congklak, pletokan bambu, yoyo, bekel, dan gangsing. Melalui kolaborasi dengan Jejak Niskala, kedua tim memadukan unsur permainan rakyat dengan narasi budaya lokal, sehingga penampilan terasa lebih kaya dan saling melengkapi.
Ketua Tim Jagad Krida, Nahyana, menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mengingatkan kembali generasi muda akan keseruan permainan tradisional yang sarat nilai kebersamaan dan kearifan lokal.
“Lewat kampanye ini, kami ingin menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar nostalgia, tapi juga sarana belajar nilai kerja sama dan kekompakan yang masih relevan sampai sekarang,” ujarnya.
Kolaborasi antara Jagad Krida dan Jejak Niskala dinilai berhasil menghadirkan pengalaman yang interaktif sekaligus edukatif bagi pengunjung Dies Natalis USM. Pengunjung tidak hanya disuguhi cerita dan visual budaya, tetapi juga diajak untuk ikut mencoba langsung berbagai permainan tradisional yang ditampilkan.
Nahyana mengungkapkan bahwa persiapan kampanye ini dilakukan melalui diskusi intensif antara kedua tim selama beberapa minggu sebelum acara berlangsung. Mulai dari pemilihan jenis permainan yang relevan, penyusunan konsep kolaborasi, hingga gladi penampilan dilakukan secara bersama-sama agar pesan pelestarian budaya dapat tersampaikan dengan utuh.
“Kerja sama dengan Jejak Niskala membuat kampanye ini terasa lebih hidup. Harapan kami, semakin banyak mahasiswa dan generasi muda yang kembali tertarik melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya kita,” kata Nahyana.
Melalui kampanye dan kolaborasi ini, Jagad Krida menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berjalan sendiri-sendiri, melainkan dapat diperkuat melalui sinergi antar tim dengan tema yang saling melengkapi. Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.

