Salah satu sesi di hari kedua Mental Health Awareness workshop di SMKN 2 Kudus, 10/2/2026. (FOTO: Istimewa).
KUDUS, semarangnews.id – Upaya memperkuat kesehatan mental di lingkungan pendidikan terus digerakkan Rotary International District 3420 melalui program Mental Health Awareness yang menyasar guru, siswa, dan orang tua di Semarang, Kudus, dan Pati. Pesan yang diusung sederhana namun kuat: anak-anak akan tumbuh hebat ketika mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung oleh lingkungan terdekatnya.
Program ini merupakan bagian dari Global Grant #2574973 dari The Rotary Foundation yang menempatkan keluarga dan sekolah sebagai ruang utama perkembangan emosi generasi muda. Salah satu rangkaian kegiatan digelar di SMKN 2 Kudus pada 9–12 Februari 2026 dengan partisipasi ratusan peserta yang mengikuti sesi demi sesi dengan penuh antusias.
District Governor Rotary District 3420, Dyah Anggraeni, menegaskan bahwa kesehatan mental anak dan remaja tidak bisa ditangani secara terpisah. “Sekolah dan keluarga harus berjalan beriringan. Kami ingin memastikan guru memiliki pemahaman yang tepat, siswa memiliki ruang aman untuk bertumbuh, dan orang tua mampu mendampingi anak dengan empati,” ujarnya.
Remaja masa kini menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari tuntutan akademik, pengaruh media digital, hingga dinamika pergaulan. Dalam situasi tersebut, kesehatan mental menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang generasi muda. Melalui pendekatan yang membumi dan mudah diterapkan, Rotary menghadirkan ruang belajar bersama yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan.
Para guru diajak memahami tanda-tanda ketika siswa membutuhkan bantuan serta cara mengelola emosi di lingkungan sekolah. Orang tua didorong membangun komunikasi yang hangat di rumah, sementara siswa dibekali kemampuan memahami perasaan, bangkit dari tekanan, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Pendidikan pun dipandang tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh.
Di SMKN 2 Kudus, rangkaian kegiatan diawali dengan pelatihan guru pada 9 Februari 2026 yang membahas pemahaman dunia remaja dan peran guru sebagai pendengar yang hadir sepenuhnya bagi siswa. Selanjutnya, pada 10–11 Februari 2026, siswa mengikuti edukasi mengenai pergaulan sehat, pencegahan bullying dan kekerasan seksual, serta bijak menghadapi kehidupan digital. Program ditutup dengan sesi Parenting Mental Health Awareness pada 12 Februari 2026 yang membuka ruang dialog bagi orang tua untuk memahami perubahan emosi anak dan cara mendampingi mereka dengan empati.
Wakil Kepala SMKN 2 Kudus, Dhian Seputro, S.Pd, M.Pd, menyebut dampak kegiatan ini terasa nyata. Guru menjadi lebih peka, siswa semakin terbuka, dan orang tua lebih percaya diri dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Ia menilai kesehatan mental akan menjadi aspek penting dalam komponen akreditasi sekolah di masa depan.
“Kegiatan mental health ini sangat bermanfaat terutama bagi siswa-siswa kami yang berpengaruh ke prestasi akademik dan kehidupan sosialnya dan ini benar-benar sangat bermanfaat bagi mereka dan sekolah pada umumnya,” ujar Dhian.
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi bersama Media Mitra Keluarga dengan menghadirkan psikolog Dr. Hastaning Sakti, M.Kes Psikolog dan Hesty Novitasary, M.Psi., Psikolog, LCPC, C.Ht. Dukungan fasilitator guru, DKK Kudus, serta Puskesmas Rejosari menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama.
Rotary District 3420 berkomitmen memperluas inisiatif ini ke lebih banyak sekolah. Melalui Global Grant #2574973, Rotary percaya ketika guru terbekali, siswa menjadi tangguh, dan orang tua terlibat, masa depan bangsa sedang dibangun dengan cara paling mendasar: menjaga hati dan pikiran generasi mudanya.


