SEMARANG, semarangnews.id – Suasana pagi salat Iduladha di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (6/6/2025), terasa begitu khidmat. Di tengah ribuan jamaah yang memadati pelataran masjid kebanggaan warga Jateng itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turut hadir melaksanakan salat Iduladha. Tak hanya itu, usai salat, Luthfi juga menyerahkan seekor sapi kurban seberat hampir satu ton kepada panitia kurban MAJT.
Momen tersebut jadi simbol semangat berbagi dan kepedulian, yang tak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
“Saya serahkan hewan kurban ini untuk disembelih dan diserahkan kepada masyarakat yang berhak menerima,” ujar Luthfi kepada Ketua PP MAJT, Noor Ahmad.
Menurut Luthfi, jumlah hewan kurban yang disiapkan tahun ini di seluruh Jawa Tengah mencapai 547.590 ekor. Angka ini tak hanya mencerminkan antusiasme masyarakat dalam menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi bentuk distribusi kesejahteraan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Tradisi kurban ini bukan hanya kewajiban bagi yang mampu, tapi juga soal bagaimana kita berbagi rezeki kepada sesama. Ini bentuk nyata dari solidaritas sosial,” tambahnya.
Salat Iduladha di MAJT dipimpin oleh Imam Besar KH Zaenuri Ahmad, dengan khotbah yang disampaikan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang, Zulkarnain. Usai salat, suasana penuh kehangatan terasa saat Gubernur Luthfi menyempatkan diri bersalaman dengan jamaah, menyapa warga dengan ramah sebelum prosesi penyerahan hewan kurban dimulai.
Ketua Pengelola MAJT, Noor Ahmad, mengatakan jumlah hewan kurban yang diterima tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Selain dari Gubernur, panitia juga menerima kurban dari Kapolda Jateng, Bank Jateng, BAZNAS, serta puluhan kambing dari para donatur. Seluruh hewan akan disembelih pada Minggu, 8 Juni 2025, dan dagingnya didistribusikan ke masyarakat sekitar MAJT dan warga kurang mampu.
“Tradisi ini akan terus kita lestarikan. Ini bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal kebersamaan dan perhatian terhadap sesama,” ujar Noor Ahmad.
Iduladha tahun ini tak hanya jadi momen berkurban, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas yang menjadi fondasi masyarakat Jawa Tengah. Sebuah pengingat indah bahwa rezeki tak pernah untuk ditimbun sendiri, tapi untuk dibagikan dengan tulus.


