
Bayu Ramli dalam salah satu adegan film horor Petaka Sinden Gaib besutan sutradara Ungke Kaumbur. (FOTO: Istimewa).
SEMARANG, semarangnews.id – Kiprah desainer kenamaan asal Semarang, Bayu Ramli, di dunia perfilman Tanah Air kembali berlanjut. Untuk kesekian kalinya, Bayu dipercaya terlibat dalam produksi film layar lebar.
Kali ini, ia turut ambil bagian dalam film bergenre horor berjudul Petaka Sinden Gaib yang disutradarai Ungke Kaumbur dan sang istri Ana Ungke sebagai produser dalam film tersebut.
Menariknya, Bayu tidak sekadar hadir sebagai pengisi peran tambahan. Dalam film tersebut, ia dipercaya memerankan tokoh Wiradinata, seorang lurah yang menjadi salah satu karakter dalam film tersebut.

Dihubungi melalui sambungan telepon di sela-sela proses syuting di kawasan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Bayu mengaku merasa bangga mendapat kesempatan untuk kembali terlibat dalam produksi film layar lebar.
Terlebih, film yang digarap kali ini mengangkat kisah horor dengan latar kehidupan masyarakat desa serta kesenian tradisional yang menjadi bagian penting dalam cerita.
Bayu mengungkapkan, keterlibatannya dalam Petaka Sinden Gaib menjadi pengalaman tersendiri. Selain bisa kembali mengeksplorasi kemampuan akting, kesempatan tersebut juga menjadi ruang baginya untuk terus berkarya di industri perfilman.
“Aku seneng banget dan bersyukur sekali kembali dipercaya bisa main di film ini, terlebih di sutradarai bang Ungke,” ujarnya.
Bayu menambahkan peran lurah yang dimainkan dalam film tersebut mengharuskan dirinya bersekongkol untuk membunuh Raras sang sinden.
“Jadi aku tuh mas disitu berperan sebagai lurah jahat yang bersekongkol untuk membunuh si sinden Raras, pokoknya disitu aku jahat banget,” imbuhnya.
Film Petaka Sinden Gaib mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat Desa Sendang Arum yang memiliki tradisi kesenian sebagai kebanggaan sekaligus sumber penghidupan. Setiap tahun, warga menggelar Pentas Bumi, sebuah pertunjukan wayang dan gamelan di pendopo desa yang dipercaya membawa kemakmuran.

Namun, di balik kemeriahan tradisi tersebut, tersimpan sebuah rahasia kelam yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Cerita berpusat pada Raras, perempuan muda berusia 22 tahun yang tinggal bersama ibunya, Wening. Kehidupan keduanya tidak berjalan mudah. Rumah dan tanah yang mereka tempati terancam disita akibat persoalan utang. Di tengah kondisi tersebut, Raras memiliki harapan untuk menjadi sinden utama dalam pergelaran Pentas Bumi.
Sayangnya, perjalanan Raras menuju impiannya justru membawanya berhadapan dengan kejadian-kejadian misterius. Ia mulai dihantui penampakan perempuan berselendang merah yang muncul setiap kali dirinya menjalani proses latihan. Sosok tersebut diduga memiliki kaitan dengan rahasia masa lalu yang selama ini disembunyikan Wening.
Ketegangan semakin berlanjut ketika Raras mulai mempertanyakan identitas perempuan berselendang merah itu kepada ibunya. Namun, Wening selalu menghindari pertanyaan tersebut dan memilih menutup rapat cerita masa lalunya.
Di tengah konflik keluarga dan teror gaib, muncul pula sejumlah karakter lain yang turut mewarnai perjalanan cerita, termasuk Raka, seorang penabuh kendang yang dikenal pendiam tetapi berani membela Raras dari ancaman Harjo, penagih utang yang kerap bersikap kasar.
Selain Bayu Ramli sebagai Wiradinata (Lurah), film ini juga dibintangi Melsy Delcy sebagai Raras, Kekey Kartika sebagai Wening, Jihad Alfurqon sebagai Raka, Keylarcel sebagai Sekar, Kartika Daud sebagai Ceu Ratna, M. Rum sebagai Abah Surasa, serta Parlin sebagai Aki Sutardja.
Kehadiran Bayu Ramli dalam film ini sekaligus menambah warna tersendiri dalam perjalanan kariernya di dunia hiburan. Sosok yang selama ini dikenal sebagai desainer senior tersebut menunjukkan bahwa ruang berkarya tidak terbatas pada satu bidang saja.
Melalui Petaka Sinden Gaib, Bayu kembali membuktikan semangatnya untuk terus mengeksplorasi kemampuan dan mengambil kesempatan dalam industri kreatif, termasuk dunia seni peran yang memiliki tantangan berbeda dari profesi yang selama ini digelutinya.





