
Sejumlah siswa SMPN 38 saat mengikuti pembelajaran materi program Swipe Safe pada saat momen monitoring, Semarang 28/10/2026. (Sapto).
SEMARANG, semarangnews.id – Kesiapan SMP Negeri 38 Semarang dalam menerapkan edukasi keamanan digital melalui program Swipe Safe terlihat saat kegiatan monitoring yang dilakukan Kedutaan Besar Australia bersama ChildFund Indonesia dan Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS), Rabu (28/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, pihak sekolah memaparkan perkembangan pelaksanaan program yang telah berjalan sejak 2025. Para siswa juga menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi keamanan digital melalui aplikasi yang dirancang khusus untuk mendukung program Swipe Safe.
Monitoring ini menjadi kesempatan bagi para mitra program untuk melihat secara langsung sejauh mana edukasi keamanan digital telah diterapkan di lingkungan sekolah, sekaligus mengevaluasi kesiapan siswa dalam menghadapi berbagai risiko ketika menggunakan internet dan media sosial.

Rombongan yang terdiri atas perwakilan Kedutaan Besar Australia, ChildFund Indonesia, YKKS, serta Dinas Pendidikan Kota Semarang mengawali kegiatan dengan mendengarkan presentasi dari pihak sekolah. Dalam pemaparan tersebut, sekolah menjelaskan perkembangan dan capaian program, termasuk penerapan materi keamanan digital dalam kegiatan pembelajaran.
Setelah presentasi, rombongan menyaksikan kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan materi Swipe Safe melalui aplikasi pendukung. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan dan mampu menunjukkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga privasi, melindungi data pribadi, serta menggunakan media sosial secara bijak.
Materi yang diberikan juga membantu siswa mengenali berbagai risiko di ruang digital, salah satunya perundungan siber atau cyberbullying. Melalui pemahaman tersebut, siswa diharapkan dapat mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan di internet, termasuk saat berinteraksi dengan orang lain melalui media sosial.

Kepala SMPN 38 Semarang, Sri Hardiyati, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk menjadi bagian dari program Swipe Safe. Menurutnya, edukasi keamanan digital menjadi kebutuhan penting bagi pelajar di tengah perkembangan teknologi dan semakin luasnya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
“Di era yang serba gadget ini saya berharap dengan program ini anak-anak mampu menerapkan dan menjadi pengguna media sosial yang bijak,” ujar Sri Hardiyati.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya berhenti pada pemahaman materi di sekolah, tetapi juga diterapkan ketika mereka menggunakan internet di luar lingkungan pembelajaran. Dengan demikian, siswa dapat lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, berkomunikasi di media sosial, serta menyikapi berbagai persoalan yang muncul di ruang digital.
SMPN 38 Semarang menjadi sekolah mitra ketiga yang dikunjungi dalam rangkaian monitoring program Swipe Safe di Kota Semarang. Program tersebut melibatkan 38 sekolah mitra yang dipilih melalui sejumlah tahapan dan kriteria yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Koordinator Keamanan Digital ChildFund Indonesia, Pritania Savitri mengatakan, program Swipe Safe telah menunjukkan sejumlah perkembangan sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023. Memasuki tahap kedua pelaksanaan, program ini terus diperkuat agar edukasi keamanan digital dapat menjangkau lebih banyak anak dan memberikan dampak berkelanjutan.
Menurut Prita, sekolah menjadi salah satu tempat yang efektif untuk memberikan edukasi keamanan digital karena memiliki sistem pembelajaran yang terstruktur. Karena itu, pendekatan Swipe Safe diarahkan untuk memperkuat materi yang sudah ada dalam pembelajaran, bukan menambah program baru yang justru membebani sekolah.
“Jadi memang pendekatan paling efektif edukasi keamanan digital salah satunya lewat institusi pendidikan yaitu sekolah. Pertama edukasi keamanan digital sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah, salah satunya mata pelajaran TIK, jadi kita perkuat di sisi situnya. Kita gak mau bikin program baru yang bikin sekolah kewalahan, tapi bagaimana ini bisa terintegrasi dengan smooth begitu,” ujar Prita.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat edukasi keamanan digital lebih mudah diterapkan dan menjadi bagian dari kebiasaan siswa. Selain melalui pembelajaran di sekolah, penguatan pemahaman juga perlu melibatkan keluarga dan masyarakat agar anak memperoleh pendampingan ketika menghadapi persoalan di internet.
Melalui monitoring ini, kesiapan SMPN 38 Semarang dalam mengimplementasikan Swipe Safe terlihat dari keterlibatan sekolah dalam menjalankan program serta kemampuan siswa menunjukkan pemahaman terhadap materi yang diberikan. Hasil monitoring juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pelaksanaan program pada tahap berikutnya.
Dengan edukasi yang terintegrasi dalam kegiatan belajar, Swipe Safe diharapkan mampu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat di kalangan pelajar. Tidak hanya memahami risiko penggunaan internet, siswa juga diharapkan mampu melindungi diri, menghormati orang lain, dan menggunakan media sosial secara aman serta bertanggung jawab.





