Sapi-sapi berdiri di daerah yang terdampak banjir bandang yang mematikan setelah hujan lebat di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Indonesia, 4 Desember 2025. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana
ACEH UTARA, 5 Des (Reuters), semarangnews.id – Bagi nelayan Effendi Basyaruddin, banjir bandang dan tanah longsor yang mematikan di provinsi Aceh, Indonesia, selama seminggu terakhir telah membangkitkan kenangan traumatis pada hari 21 tahun lalu ketika ia berlari menyelamatkan diri saat gelombang laut naik seperti tebing dan menghantam kampung halamannya.
Hampir 200.000 orang tewas di Aceh saja setelah gempa berkekuatan 9,1 skala Richter di lepas pantai provinsi utara tersebut memicu tsunami Samudra Hindia yang dahsyat pada tanggal 26 Desember 2004.
“Saya melihat gelombang tertinggi saat tsunami, sekitar 20 meter,” kata Effendi kepada Reuters. “Tapi banjirnya lebih besar … desa-desa menjadi sungai.”
Kenangan itu kembali hadir bagi pria berusia 64 tahun ini setelah banjir dan tanah longsor akibat siklon melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra. Lebih dari 800 orang tewas di Indonesia, termasuk lebih dari 200 orang di Aceh, dan badai tersebut juga menewaskan sekitar 200 orang di Thailand dan Malaysia.
“Kami sangat trauma,” kata Effendi, yang rumahnya tersapu ombak. Ia kini tinggal di tenda dekat laut, yang ia anggap sebagai kawan sekaligus lawan.
Effendi tidak sendirian dalam penderitaannya. Kesulitan menjangkau desa-desa terpencil dan menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan telah menambah penderitaan warga.
“Aceh saat ini seperti mengalami tsunami kedua,” kata Gubernur Muzakir Manaf sambil menangis.
SERUAN UNTUK BANTUAN PEMERINTAH LEBIH LANJUT
Dengan deru ekskavator dan warga yang mengaduk-aduk genangan lumpur dan reruntuhan tempat rumah mereka dulu berdiri di Aceh Tamiang, Adi Hermawan yang berusia 45 tahun mengatakan masyarakat membutuhkan air bersih dan makanan.
“Permukiman itu hancur total, seolah-olah dihantam tsunami,” ujarnya. “Bedanya, para korban mungkin belum ditemukan dan lebih sulit ditemukan.”
Para pemimpin daerah di seluruh Aceh telah meminta pemerintah untuk menetapkan status darurat nasional atas bencana tersebut agar dapat menyediakan dana tambahan untuk upaya penyelamatan dan bantuan.
“Saya tidak sanggup… jumlah korbannya luar biasa. Rumah-rumah warga hancur. Tidak ada perhatian dari pemerintah pusat,” kata Ismail A. Jalil, pemimpin Aceh Utara, sambil menangis dalam sebuah video yang ditayangkan di media lokal Narasi.
Minggu ini, pemerintah pusat mengatakan pihaknya selalu mendukung pemerintah daerah, dan menambahkan bahwa anggaran 500 miliar rupiah ($30 juta) yang disisihkan untuk bantuan bencana sudah cukup dan dapat ditingkatkan jika diperlukan.
Presiden Prabowo Subianto, ketika ditanya awal minggu ini tentang deklarasi keadaan darurat nasional, mengatakan situasi membaik dan pengaturan saat ini sudah memadai.
($1 = 16.640 rupiah)
Laporan Hidayatullah Tahjuddin; Pelaporan dan penulisan tambahan oleh Stanley Widianto; Penyuntingan oleh John Mair dan Thomas Derpinghaus


