SEMARANG, semarangnews.id – Bayu Ramli kembali mencoba tantangan baru di dunia perfilman. Setelah sebelumnya beberapa kali terlibat dalam produksi film sebagai pemain, kali ini Bayu mendapat kesempatan untuk memproduksi drama reels pertamanya yang diberi judul “Pakde Cinta”.
Tak hanya berada di balik proses produksi, Bayu juga dipercaya memerankan tokoh utama bernama Pakde Cinta. Karakter tersebut merupakan seorang pemilik kos yang harus berhadapan dengan berbagai cerita, karakter dan tingkah laku para penghuni kosnya.
Bagi Bayu, proyek “Pakde Cinta” menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya di dunia perfilman, khususnya dalam format drama reels yang memiliki karakter penceritaan berbeda dengan film pada umumnya.
“Saya merasa bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk memproduksi drama reels ini, karena ini menjadi pengalaman pertama bagi saya. Tentunya ada tantangan tersendiri, tetapi justru dari sini saya bisa belajar banyak hal, baik dalam proses produksi maupun saat memainkan karakter Pakde Cinta,” ujar Bayu Ramli.
“Pakde Cinta” mengangkat cerita ringan dengan balutan komedi dan persoalan percintaan. Kehidupan di sebuah rumah kos menjadi latar utama cerita, dengan para penghuni yang sebagian besar merupakan perempuan. Dari kehidupan sehari-hari tersebut, berbagai persoalan hubungan asmara hingga kejadian-kejadian kocak kemudian berkembang menjadi konflik dalam cerita.
Drama reels ini direncanakan hadir dalam lima episode. Setiap episode membawa cerita dan konflik yang saling berkaitan, dengan karakter Pakde Cinta menjadi salah satu sosok yang berada di tengah dinamika kehidupan para penghuni kos.
Pada episode pertama, cerita dimulai dari persoalan hubungan Mona dan Salmon. Mona harus menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya ternyata dekat dengan perempuan lain bernama Sitha. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik cinta segitiga yang diwarnai berbagai kejadian lucu.
Di tengah persoalan tersebut, Pakde Cinta hadir sebagai pemilik kos yang mengetahui berbagai masalah para penghuninya. Ia tidak hanya menjadi sosok yang menyaksikan konflik, tetapi juga berusaha memberikan nasihat mengenai persoalan cinta yang tengah dihadapi para penghuni kos.
Namun, nasihat Pakde ternyata tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Salmon yang mengaku telah berubah justru kembali memainkan perasaan Mona. Di satu sisi ia berusaha meyakinkan Mona untuk kembali bersamanya, sementara di sisi lain masih menjalin hubungan dengan Sitha.
Situasi tersebut kemudian membuat Pakde dan Yaya berusaha membuka mata Sitha mengenai perilaku Salmon. Hingga akhirnya, kebohongan Salmon terbongkar dan membuat Mona maupun Sitha mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Di balik cerita komedi dan percintaan tersebut, proses produksi “Pakde Cinta” juga memiliki tantangan tersendiri bagi para pemain. Sutradara Ungke Kaumbur mengatakan drama reels ini memiliki tempo cerita yang relatif cepat sehingga para pemain dituntut mampu mengikuti ritme permainan.
“Drama reels ini komedi dengan tempo yang agak cepat. Jadi para pemain harus bisa mengikuti ritme tersebut. Jangan sampai ada yang terlalu lambat, karena nanti timing komedinya bisa hilang,” kata Ungke Kaumbur.
Menurut Ungke, tantangan lainnya terletak pada karakter para tokoh yang memiliki latar dan asal daerah berbeda. Beberapa karakter dalam “Pakde Cinta” digambarkan berasal dari daerah tertentu, seperti Batak dan Jawa. Kondisi tersebut membuat para pemain harus mampu menjaga karakter masing-masing secara konsisten sepanjang cerita.
“Kesulitannya juga karena beberapa karakter ini punya asal atau latar yang berbeda-beda. Ada yang Batak, ada yang Jawa dan sebagainya. Jadi pemain harus bisa konsisten dengan karakter yang sudah dibangun, termasuk cara bicara dan pembawaannya,” jelasnya.
Karakter Pakde Cinta sendiri menjadi salah satu pengikat cerita. Sebagai pemilik kos, Pakde memiliki kedekatan dengan berbagai persoalan yang dialami para penghuni. Posisi tersebut membuat karakternya dapat masuk ke dalam berbagai konflik secara natural, sekaligus memberikan warna komedi di tengah persoalan percintaan.
Bagi Bayu, memerankan Pakde Cinta juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus membangun karakter seorang pemilik kos yang dekat dengan para penghuni, mampu memberikan nasihat, tetapi tetap memiliki sisi humor yang menjadi bagian penting dalam cerita.
Format reels membuat cerita “Pakde Cinta” dikemas dalam adegan-adegan yang singkat dan bergerak cepat. Karena itu, kemampuan pemain menjaga ritme, ekspresi, dialog serta karakter menjadi bagian penting agar cerita tetap menarik dan mudah diikuti penonton.
Melalui drama reels pertamanya ini, Bayu Ramli tidak hanya mencoba kembali tampil di depan kamera, tetapi juga mulai mengambil tantangan dalam proses produksi sebuah karya audiovisual. Pengalaman sebelumnya sebagai pemain film menjadi bekal untuk membawa karakter Pakde Cinta sekaligus memahami proses kreatif di balik pembuatan drama reels.
“Pakde Cinta” direncanakan hadir dalam lima episode dengan menggabungkan unsur komedi, drama percintaan dan kehidupan sehari-hari anak kos. Cerita yang ringan serta karakter-karakter dengan latar berbeda diharapkan dapat memberikan hiburan sekaligus membuat penonton merasa dekat dengan situasi yang ditampilkan.
Untuk episode pertama, cerita ditutup dengan terbongkarnya kebohongan Salmon. Mona dan Sitha akhirnya mengetahui bahwa keduanya sama-sama menjadi korban permainan Salmon, sementara Pakde Cinta dan Yaya menjadi saksi dari kekacauan hubungan tersebut.
“Pakde Cinta” pun menjadi langkah baru bagi Bayu Ramli untuk mengeksplorasi dunia produksi drama reels. Lewat pengalaman pertamanya tersebut, Bayu tidak hanya menjalankan peran sebagai pemeran utama, tetapi juga belajar memahami proses menciptakan sebuah cerita yang mampu memadukan akting, komedi, konflik dan ritme cerita dalam format yang singkat.

