Site icon semarangnews.id

AMAN Jateng Gelar Diskusi Publik, Dorong Mahasiswa Kawal Kebijakan dan Jaga Persatuan

SEMARANG, semarangnews.id — Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Jawa Tengah menggelar diskusi publik bertajuk “Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Menjaga Persatuan dan Mengawal Kedaulatan Bangsa” di Kota Semarang.

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai organisasi mahasiswa untuk membahas peran mahasiswa dalam menjaga persatuan, mengawal kebijakan publik, serta menyusun gagasan yang dapat menjawab persoalan masyarakat.

Diskusi menghadirkan Guru Besar UIN Walisongo Semarang Prof. Ahwan Fanani dan aktivis mahasiswa Semarang Eka Mulyo Yunus. Keduanya membahas pentingnya mahasiswa membangun gerakan berbasis pengetahuan, memperkuat budaya dialog, serta menjalankan fungsi kontrol sosial.

Sejumlah organisasi mahasiswa turut hadir, di antaranya PMII Cabang Semarang, HMI Cabang Semarang, PMII Walisongo, IMM Cabang Semarang, Candradimuka, Koordinator BEM SERA, BEM Universitas Diponegoro (Undip), BEM Universitas Negeri Semarang (Unnes), BEM Universitas Semarang (USM), BEM Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), dan Aliansi Mahasiswa Semarang.

AMAN Jateng Jadi Ruang Konsolidasi Mahasiswa

Ketua Panitia, Khoirullah, mengatakan AMAN Jawa Tengah ingin membangun ruang komunikasi lintas organisasi mahasiswa.

Menurutnya, perbedaan latar belakang organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membahas persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

“Kami ingin AMAN Jawa Tengah menjadi ruang pertemuan bagi berbagai elemen mahasiswa. Perbedaan organisasi dan latar belakang bukan alasan untuk tidak duduk bersama. Justru dari perbedaan itu kita dapat menemukan gagasan dan agenda bersama untuk kepentingan masyarakat,” ujar Khoirullah.

Ia mengatakan diskusi tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi konkret. Peserta diberikan ruang menyampaikan berbagai persoalan dan keresahan melalui kertas aspirasi.

Aspirasi yang terkumpul akan dirumuskan menjadi dokumen rekomendasi mahasiswa untuk disampaikan kepada DPRD Jawa Tengah.

Mahasiswa Harus Berbasis Kajian

Aktivis mahasiswa Semarang, Eka Mulyo Yunus, mengatakan mahasiswa tidak cukup hanya menyampaikan kritik ketika muncul persoalan publik.

Menurutnya, kritik harus didukung pengetahuan, kajian, dan solusi yang jelas.

“Mahasiswa tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan kemudian melakukan kritik. Kritik harus dibangun di atas pengetahuan, kajian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu, mahasiswa harus mampu mengubah keresahan menjadi gagasan dan gagasan menjadi agenda gerakan,” ujar Eka.

Ia juga mendorong konsolidasi lintas organisasi agar gerakan mahasiswa tetap kuat dan relevan.

“Persatuan mahasiswa bukan berarti menyeragamkan cara berpikir. Kita justru perlu merawat perbedaan perspektif untuk menemukan titik temu. Yang harus dipertemukan adalah kepentingan dan agenda untuk menjawab persoalan masyarakat,” katanya.

Prof Ahwan Tekankan Pentingnya Dialog

Prof Ahwan Fanani menilai persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan mengelola perbedaan melalui dialog.

“Persatuan bukan berarti tidak adanya perbedaan. Persatuan justru membutuhkan kemampuan untuk mengelola perbedaan secara dewasa. Mahasiswa memiliki posisi penting untuk membangun ruang dialog agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik yang merusak kehidupan bersama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap mempertahankan tradisi intelektual melalui kegiatan membaca, berdiskusi, melakukan kajian, dan menyusun rekomendasi.

“Gerakan mahasiswa akan memiliki daya tahan apabila dibangun dengan pengetahuan,” katanya.

Aspirasi Akan Dikawal ke DPRD Jateng

Perwakilan HMI Cabang Semarang, Mughni, mengatakan pengawalan aspirasi harus dilakukan secara konsisten.

“Persoalan mahasiswa hari ini bukan hanya bagaimana menyampaikan aspirasi, tetapi bagaimana memastikan aspirasi tersebut memiliki arah dan terus dikawal. Kita membutuhkan gerakan yang konsisten, berbasis kajian, dan mampu mengawal isu sampai ada respons dari pemangku kebijakan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan PMII Cabang Semarang, Zoelhandy, menilai persatuan harus diwujudkan melalui kerja bersama.

“Persatuan jangan hanya menjadi slogan. Persatuan harus terlihat dalam bagaimana mahasiswa mampu duduk bersama, mendengarkan perbedaan, kemudian menyusun agenda yang dapat diperjuangkan secara bersama-sama,” katanya.

Ketua BEM Undip, Majid, juga mendorong mahasiswa melahirkan radical idea. Istilah tersebut, kata dia, bukan berarti kekerasan atau tindakan ekstrem, tetapi keberanian untuk melihat persoalan hingga ke akarnya.

“Mahasiswa harus memiliki radical idea. Radikal di sini bukan berarti kekerasan atau tindakan ekstrem, tetapi keberanian untuk berpikir sampai ke akar persoalan,” ujar Majid.

Menurutnya, mahasiswa harus mampu menawarkan solusi berbasis data dan kajian, bukan hanya menjadi komentator kebijakan.

AMAN Jawa Tengah selanjutnya akan menghimpun seluruh aspirasi peserta untuk disusun menjadi dokumen rekomendasi. Dokumen tersebut akan disampaikan kepada DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Khoirullah menegaskan penyerahan aspirasi bukan menjadi akhir dari kegiatan.

“Setelah aspirasi disampaikan kepada DPRD Jawa Tengah, kami ingin ada proses pengawalan. Jadi, forum ini bukan titik akhir, tetapi menjadi awal dari proses advokasi,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, AMAN Jawa Tengah berharap komunikasi lintas organisasi mahasiswa semakin kuat. Mahasiswa juga didorong tidak hanya menjadi agen perubahan dan kontrol sosial, tetapi mampu menghasilkan gagasan serta mengawal kebijakan publik secara konsisten

Exit mobile version